Urgensi Keluarga sebagai Pembimbing Generasi Digital

Kita saat ini tengah hidup dalam dunia digital dengan kekayaan informasi yang luar biasa. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memegang peran penting dalam membangun peradaban di abad 21. TIK memfasilitasi jangkauan hampir keseluruh belahan dunia. Kecepatan bertukar informasi antar negara tanpa terbatas ruang dan waktu menjadi faktor yang mempercepat laju pertumbuhan perekonomian dunia. Kemajuan dalam mengembangkan TIK tidak serta merta selalu memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Seiring terjadinya interaksi intens antara TIK dengan kehidupan manusia, timbul berbagai dampak negatif yang belum mampu diantisipasi. Dampak negatif dari kemajuan TIK dalam kehidupan manusia terjadi dalam semua tataran lapisan sosial manusia. Pola komunikasi antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, kesemuanya mengalami integrasi dengan TIK.

gamabr 1sumber: http://www.frisco.co.id

Gambar 1. Kegiatan pendampingan anak ketika menggunakan gadget

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia pasti tidak dapat lepas dari dampak kemajuan TIK. Data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) (2017) menunjukkan bahwa penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa. Angka tersebut mengalami peningkatan dari data tahun 2016, dimana angka penetrasi pengguna internet di Indonesia hanya 132,7 juta jiwa. Penetrasi pengguna internet berdasarkan usia didominasi oleh pengguna pada rentang usia 13-18 tahun (pelajar) yang mencapai 75,50%. Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap keberadaan informasi digital maupun perangkat TIK saat ini terus meningkat dan menjadi sebuah kebutuhan primer. Keterbukaan dunia maya bagi anak menimbulkan tantangan internet bagi orang tua, antara lain:

  1. Kemudahan akses internet bagi anak
  2. Kebebasan online tanpa ada aturan yang mengikat
  3. Anak zaman sekarang lebih tahu banyak dibandingkan orang tua
  4. Anak dapat mendapatkan beragam konten
  5. Anak merasa ingin lebih bebas

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi pelajar perlu diimbangi dengan pengawasan dari orang dewasa di sekitarnya. Kasus kriminal tentang penyalahgunaan media sosial oleh pelajar telah banyak dilaporkan terjadi di berbagai daerah di tanah air. Kasus penyimpangan perilaku pelajar dalam memanfaatkan TIK dapat dihindari apabila lingkungan keluarga dan sosial peserta didik lebih waspada terhadap dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh TIK. Bimbingan yang tepat bagi pelajar dalam mengeksplorasi informasi di dunia maya nyatanya telah melahirkan banyak prestasi dalam dunia pendidikan Indonesia. Pelajar dapat terinspirasi dengan ide-ide kreatif dari berbagai negara dalam menemukan solusi suatu permasalahan maupun dalam menciptakan sebuah produk.

Bagaimana optimalisasi pemanfaatan TIK bagi pelajar dan minimalisasi dampak negatif harus dilakukan? Libatkan keluarga dalam mengajarkan literasi TIK (information and communication technology/ ICT literacy) dapat menjadi salah satu langkah paling solutif bagi permasalahan tersebut. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, menegaskan bahwa keluarga menjadi lingkungan pertama dan utama dalam mendidik anak. Namun, tuntutan dinamika kehidupan di era modern ini menjadikan banyak orang tua mengorbankan waktu mereka bersama anak dan fokus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Disinilah sebuah permasalahan baru muncul dan rasa kepedulian terhadap waktu berkualitas (quality time) antara anggota keluarga sangat dibutuhkan.

Orang tua sebagai pemeran kunci dalam menjalankan fungsi keluarga memiliki kewajiban untuk bertindak proaktif mendampingi tumbuh kembang anak dalam memanfaatkan kemajuan dalam bidang TIK, seperti internet. Panduan bagi orang tua untuk dapat mendampingi aktivitas mengakses informasi secara aman melalui internet tersedia dalam ‘Seri Pendidikan Orang Tua: Internet Aman’ yang dapat diunduh melalui website resmi sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id. Buku seri pendidikan orang tua tentang internet aman ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bagaimana cara orang tua dalam mengenali dunia internet dan mengajarkan penggunaannya kepada anak secara lebih bijak.

ICT literacy menurut Kereluik et al. (2013) merupakan bagian dari pengetahuan dasar (foundational knowledge) yang menunjukkan kemampuan seseorang dalam mencari, mengorganisir, dan memproses informasi secara efektif dari berbagai media digital dengan pemahaman yang baik terhadap sistem teknologi dan bentuk media, sekaligus mempertimbangkan nilai moral dan etika. ICT literacy seseorang didukung dengan kecakapan dalam mengakses (access), mengelola (manage), mengintegrasikan (integrate), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create) informasi (International ICT Literacy Panel, 2002). ICT literacy yang baik bagi anak akan membantu mereka untuk hidup di era informasi digital karena ICT literacy merupakan keterampilan yang mendukung keterampilan hidup abad 21 (Partnership for 21st Century Learning, 2015).

Peran keluarga khususnya orang tua dalam mendidik penguasaan ICT literacy untuk anak dapat dilakukan melalui pola pengasuhan positif. Informasi tentang pola pengasuhan tersebut terdapat di laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id. Terdapat banyak poin penting dalam pengasuhan anak secara positif, salah satunya pengasuhan positif dalam era digital. Peran orang tua dalam mendampingi perkembangan generasi digital dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  1. Menambah pengetahuan Anda sebagai orang tua terhadap informasi maupun media sosial yang sering diakses oleh anak.
  2. Mengarahkan penggunaan perangkat dan media digital dengan jelas. Anda dapat membuat kesepakatan dengan anak tentang waktu ketika dia boleh mengakses internet.
  3. Menyeimbangkan waktu penggunaan media digital dengan interaksi di dunia nyata seperti berolah raga, melukis, atau bernyanyi.
  4. Meminjamkan anak perangkat digital sesuai dengan keperluan anak.
  5. Memilihkan program/ aplikasi yang positif. Anda dapat pula mengatisipasi materi negatif dalam dunia maya dengan menginstall software. Beberapa alat bantu yang dapat membantu Anda menangkal materi tidak aman, antara lain software parental (seperti K9 Web Protection), software browser anak  (seperti software Kid Rocket), dan DNS Nawala  yang memiliki kemampuan untuk memfilter komputer dari konten-konten yang tidak diinginkan (gunakan DNS Nawala Project).

anak belajar membaca

sumber: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Gambar 2. Orang Tua Mendampingi Anak Beraktivitas di Dunia Nyata

Orang tua harus mengenalkan internet sesuai kebutuhan anak yang dapat dipertimbangkan berdasarkan usia anak. Tabel 1 menyajikan rekomendasi pengenalan internet berdasarkan usia perkembangan anak.

Tabel 1. Peran Orang Tua dalam Mengenalkan Internet kepada Anak

Rentang usia anak Karakteristik Peran Orang Tua
Usia 2 – 6 tahun Anak belum diperkenankan menggunakan internet sendiri.

1.    Sedini mungkin menumbuhkan karakter anak sehingga dapat bertahan terhadap pengaruh lingkungan,

2.    Mendampingi anak sehingga akan terbentuk ikatan emosional antara anak dengan orang tua sekaligus menciptakan pengalaman yang menyenangkan,

3.    Memilihkan situs yang berisi konten pengenalan pra-sekolah, seperti pengenalan huruf, angka, maupun pengetahuan dasar.

Usia 7-12 tahun Anak mulai meminta kepada orang tua untuk lebih bebas dalam mengeksplorasi internet

1.    Komputer anak ditempatkan di tempat terbuka bagi keluarga dan dilengkapi dengan perangkat pengamanan penggunaan internet supaya anak tetap leluasa,

2.    Membuat kesepakatan dengan anak terkait waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan internet.

Usia 13-15 tahun Anak lebih membutuhkan kebebasan dan pengalaman.

1.    Membantu anak untuk lebih mengenal internet sebagai salah satu sumber informasi dalam menyelesaikan tugas sekolah atau hal-hal lain yang terkait hobinya,

2.    Komputer anak ditempatkan di tempat terbuka bagi keluarga dan dilengkapi dengan perangkat pengamanan penggunaan internet supaya anak tetap leluasa,

3.    Membuat kesepakatan dengan anak terkait waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan internet.

Usia 16-18 tahun Anak mulai aktif dalam menjalani kehidupan sosialnya. Anak akan lebih banyak mencari informasi untuk memenuhi rasa keingintahuan terhadap suatu hal.

1.      Komputer anak ditempatkan di tempat terbuka bagi keluarga dan dilengkapi dengan perangkat pengamanan penggunaan internet supaya anak tetap leluasa,

2.    Membuat kesepakatan peraturan bersama mengenai waktu penggunaan internet secara aman dan bijak,

3.    Memberikan pemahaman kepada anak untuk tetap waspada terhadap keberadaan oknum-oknum yang dapat merugikan mereka dalam penggunaan media sosial.

Pemaparan yang telah disampaikan pada bagian artikel ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa keluarga, khususnya orang tua, memiliki peran yang sangat penting bagi anak untuk tumbuh menjadi generasi digital di era abad 21. Orang tua harus mulai memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kualitas waktu bersama anak dengan memberikan support dan bimbingan dalam mengembangkan bakat anak yang dapat didukung dengan penguasaan ICT literacy yang baik. Harapan kita bersama, generasi muda Indonesia dapat menghadapi tantangan yang terbentang di masa depan dimana penguasaan akan TIK begitu fundamental. #sahabatkeluarga

Referensi

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). 2017. Infografis Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia Survey 2017. Teknopreneur

International ICT Literacy Panel. (2002). Digital Transformation: A Framework for ICT Literacy. A Report of the International ICT Literacy Panel. Educational Testing, 1. Diambil dari http://www.ets.org/research/ictliteracy

Kereluik, K., Mishra, P., Fahnoe, C., Terry, L., & Karr, J. A. (2013). What knowledge is of most worth: teacher knowledge for 21. Journal of Digital Learning in Teacher Education. https://doi.org/10.1080/21532974.2013.10784716

Partnership for 21st Century Learning. (2015). P21 Partnership for 21st Century Learning. Partnership for 21st Century Learning, 9. Diambil dari http://www.p21.org/documents/P21_Framework_Definitions.pdf

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.(2016). Seri Pendidikan Orang Tua: Pengasuhan Positif. Dapat diakses melalui https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Dokumen/3995_2016-08-24/Buku%20Saku%20Pengasuhan%20Positif-edLina.pdf

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.(2016). Seri Pendidikan Orang TuaInternet Aman. Dapat diakses melalui https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Dokumen/4790_2017-05-19/Internet%20Aman%20Revisi%2014.pdf

Categories: education | Tags: | Leave a comment

Sukseskan Gerakan Literasi Sekolah, Sukseskan Pembangunan Generasi Literat Indonesia

Negara di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, saat ini tengah bersiap menghadapi tantangan abad 21. Partnership for 21st Century Learning telah menyusun kerangka pembelajaran abad 21 (framework for 21st century learning) yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi negara-negara di dunia dalam mengembangkan sistem pendidikannya. Kerangka pembelajaran tersebut berfokus pada pengembangan tiga keahlian yaitu life and career skills (keahlian hidup dan karir), learning and innovation skills (keahlian belajar dan berinovasi), dan information, media, and technology skills (keahlian informasi, media, dan teknologi). Ketiga keahlian tersebut harus menjadi tujuan dalam merancang lingkungan belajar, mengembangkan profesionalitas, kurikulum dan pembelajaran, serta penilaian standar.

Capture

Gambar 1. Kerangka Pembelajaran Abad 21

Keahlian belajar dan berinovasi meliputi sikap kreatif, inovatif, berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, komunikatif, dan mampu bekerja sama. Keahlian media, infromasi, dan teknologi meliputi literasi informasi, media, dan ICT (information, communication, and technology) yang baik. Keahlian hidup dan karir mencakup kemampuan beradaptasi, inisiatif, mampu bermasyarakat, memahami lintas budaya, produktif, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Semua keahlian tersebut perlu dipersiapkan untuk menghadapi masalah kehidupan dan lingkungan kerja yang semakin kompleks, serta menghadapi era informasi tanpa batas dan perkembangan teknologi yang semakin maju.

Di Indonesia, ketiga keahlian yang diperlukan dalam menjawab tantangan abad 21 tersebut telah diimplementasikan dalam kurikulum nasional yaitu Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 mengusung pendekatan scientific yang bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi dan soft skill peserta didik. Penguasaan semua keahlian tersebut harus didukung kemampuan literasi yang baik. Literasi dimaknai sebagai kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas.

Sayangnya, Indonesia masih memiliki prestasi yang memprihatinkan dalam budaya literasi, khususnya pada minat baca. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia merupakan kisah muram yang telah memakan banyak ‘korban’ dan diutarakan oleh Taufiq Ismail sebagai ‘tragedi nol buku’. Hal tersebut didukung oleh studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, yang menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Selain itu, survei UNESCO menemukan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001%, artinya dari seribu orang hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Terdapat pula temuan fakta bahwa hasil survei internasional (PIRLS 2011, PISA 2009 & 2012) yang mengukur keterampilan membaca peserta didik, Indonesia menduduki peringkat bawah. Tradisi literasi Indonesia yang sangat memprihatinkan tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Perubahan arah pendidikan menghadapi tantangan abad 21 mengharuskan pemerintah mengambil langkah nyata dalam mengatasi krisis membaca di Indonesia. Akhirnya pada tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan sebuah gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Literasi Sekolah. GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang literat dimaknai bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan dan ramah anak di mana semua warganya menunjukkan empati, kepedulian, semangat ingin tahu, dan cinta pengetahuan, cakap berkomunikasi, serta dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya. Publik yang terlibat dalam GLS adalah semua praktisi pendidikan maupun non pendidikan, yaitu guru, kepala sekolah, peserta didik, orang tua, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan di pemerintahan.

GLS saat ini menjadi feature andalan dalam menciptakan generasi literat Indonesia. GLS bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Lebih khusus lagi GLS memiliki tujuan, antara lain, (1) menumbuhkan budaya literasi membaca dan menulis peserta didik di sekolah, (2) meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, (3) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengolah pengetahuan, dan (4) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca. Menjadi harapan besar bagi kita, rumusan tujuan yang sangat ideal tersebut dapat diimplementasikan secara optimal di ekosistem sekolah Indonesia agar tercipta generasi literat yang siap menghadapi era abad 21.

Prinsip-prinsip GLS harus dipegang teguh agar tujuan GLS dapat tercapai. Prinsip-prinsip literasi sekolah, yaitu (1) sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik berdasarkan karakteristiknya, (2) dilaksanakan secara berimbang, menggunakan ragam teks, dan memperhatikan kebutuhan peserta didik, (3) berlangsung secara terintegrasi dan holistik di semua area kurikulum, (4) kegiatan literasi dilakukan secara berkelanjutan, (5) melibatkan kecapakan komunikasi lisan, dan (6) mempertimbangkan keberagaman. Pelaksanaan GLS dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.

Berbagai sekolah saat ini mulai berbenah diri dan mencoba mengimplementasikan GLS dengan merancang berbagai program. Fokus kami adalah pada tahap pembiasaan terlebih dahulu. Berikut ini beberapa alternatif kegiatan yang dapat diterapkan di sekolah, khususnya sekolah dasar, antara lain,

  1. Membentuk kelompok membaca. Kelompok membaca ini terdiri dari 4-6 peserta didik dalam tingkat kelas yang sama. Setiap peserta didik wajib memilih satu buku bacaan. Kegiatan dilakukan setiap seminggu sekali dimana peserta didik menyampaikan kembali isi buku bacaan yang telah dibaca dan menyampaikan makna dari cerita yang dibaca.
  2. Membaca 15 menit setiap pagi. Pembiasaan yang sekarang mulai gencar dilaksanakan di sekolah yaitu melalui kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai dengan membaca buku bacaan selain buku mata pelajaran.
  3. Membuat ruang baca di setiap kelas. Ruang perpustakaan bukan satu-satunya bagian bangunan sekolah yang diperuntukkan untuk membaca. Setiap ruang kelas dapat ditata menjadi perpustakaan mini dimana setiap peserta didik dapat lebih mudah mengakses buku bacaan. Perpustakaan mini tersebut dapat ditata di sudut ruang kelas.
  4. Mengoptimalkan program perpustakaan sekolah. Perpustakaan harus membuat program-progam yang dapat menarik dan memotivasi minat baca peserta didik, misalnya dengan adanya program penghargaan kepada peserta didik yang rajin mengunjungi dan membaca di perpustakaan setiap bulan dan adanya program ‘satu siswa satu buku’ dimana setiap siswa minimal menyumbangkan satu buku di perpustakaan sekolah yang bertujuan untuk pemenuhan sumber literasi.
  5. Merancang Program Kata. Supiandi (2016) menjelaskan tentang Program Kata yang telah dilaksanakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Program Kata ini memliki tujuan untuk mendukung tahap pembiasaan budaya membaca dan menulis di sekolah dengan mengacu pada prinsip berimbang dan sesuai dengan tahap perkembanga peserta didik. Program Kata tersebut memiliki tiga implementasi program, yaitu,
    • E-Pustaka. Sumber bacaan yang dapat diakses peserta didik tidak hanya berupa buku cetak, namun juga dapat berupa soft file yang dipinjamkan melalui
    • Mentoring Kata. Program yang menekankan pada pemahaman peserta didik tentang pentingnya membaca dan menulis. Dua agenda yang penting adalah kelas literasi dan jurnal literasi.
    • Arisan Kata. Program ini dilaksanakan setiap bulan dengan cara mengundi tema yang akan dijadikan bahan tulisan. Arisan kata tidak hanya diberlakukan bagi peserta didik, namun juga bagi guru di sekolah.

Implementasi program GLS akan optimal apabila didukung peran keluarga di rumah. Di rumah, orang tua dapat mengembangkan program ‘Perpustakaan Keluarga’. Setiap rumah wajib menyiapkan sebuah rak yang diletakkan di ruang tamu dan diisi dengan buku-buku bacaan yang bermanfaat dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Setiap dua minggu sekali, pihak sekolah dapat melakukan kunjungan ke rumah peserta didik untuk memonitor berjalannya program ‘Perpustakaan Keluarga’.

Program-program implementasi yang mendukung GLS tersebut semoga dapat menjadi inspirasi bagi pembaca agar budaya membaca di Indonesia semakin baik. Mari kita sukseskan Gerakan Literasi Sekolah, agar pembangunan generasi literat Indonesia juga sukses. Indonesia siap menyonsong abad 21 bersama Generasi Emas yang Literat!

“Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.”

(Ki Hadjar Dewantara)

 

DAFTAR PUSTAKA

________. 2007. Framework for 21st Century Learning. Partnership for 21st Century Learning.Tersedia di www.p21.org

Faizah, D.U., dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Supiandi. 2016. Menumbuhkan Budaya Literasi di Sekolah dengan ‘Program Kata’. Kepulauan Bangka Belitung: SMA Muhammadiyah Toboali

 

Categories: education, Gerakan Literasi Sekolah | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Create a website or blog at WordPress.com